Perkenalkan, nama saya Ridho Mughni Aji, atau biasa dipanggil Ridho.
Saya adalah seorang penyandang disabilitas tunanetra sejak lahir. Bagi sebagian orang, bermain game mungkin merupakan hal yang sangat biasa. Namun bagi saya, itu adalah sebuah impian yang selama bertahun-tahun terasa sulit untuk diwujudkan.
Selama kurang lebih 22 tahun menjalani kehidupan, saya selalu penasaran seperti apa rasanya memainkan sebuah game secara mandiri tanpa harus bergantung kepada orang lain. Saya pernah mencoba mengenal berbagai jenis permainan, tetapi hampir semuanya mengandalkan tampilan visual. Akibatnya, saya tidak bisa menikmati permainan sebagaimana pemain lain menikmatinya.
Dalam hati saya selalu bertanya, “Apakah benar tidak ada game yang benar-benar ramah bagi seorang tunanetra?”
Titik Balik pada Sebuah Sore di Bulan April
Jawaban dari pertanyaan itu akhirnya saya temukan pada sebuah sore yang hingga hari ini masih saya ingat dengan sangat jelas.
Tanggal 25 April 2025, selepas menunaikan salat Asar sekitar pukul 16.00 WIB, saya membuka aplikasi YouTube seperti biasanya. Dengan bantuan screen reader yang setiap hari menjadi “mata” saya dalam menggunakan ponsel, saya menjelajahi berbagai video secara acak. Tanpa diduga, screen reader saya berhenti pada sebuah video yang membahas game manajer sepak bola bernama Hattrick.
Awalnya saya sama sekali tidak berekspektasi apa pun. Pikiran saya saat itu sederhana. Saya mengira Hattrick hanyalah game sepak bola lain yang penuh dengan animasi dan visual, sehingga tentu saja tidak akan bisa saya mainkan. Namun rasa penasaran membuat saya tetap menonton video tersebut hingga selesai.
Semakin lama saya mendengarkan penjelasan di dalam video, saya mulai menyadari bahwa Hattrick sangat berbeda dari game sepak bola yang pernah saya kenal. Game ini tidak mengandalkan refleks atau kemampuan mengendalikan pemain di lapangan. Sebaliknya, Hattrick berfokus pada strategi, analisis, pengelolaan klub, serta pengambilan keputusan seorang manajer sepak bola.
Yang paling membuat saya terkejut adalah hampir seluruh sistemnya berbasis teks. Saat itulah saya merasa menemukan sesuatu yang selama ini saya cari.
Kelahiran Pakijangan FC: Langkah Awal di Dunia Baru
Tanpa berpikir panjang, saya langsung membuka tautan yang ada di deskripsi video tersebut. Tautan itu membawa saya ke Google Play Store. Saya segera mengunduh aplikasi Hattrick, memasangnya di ponsel, lalu membuat akun.
Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya saya mendirikan klub pertama saya. Nama klub itu adalah Pakijangan FC.
Mengapa saya memilih nama tersebut? Jawabannya sangat sederhana. Pakijangan adalah nama kampung tempat saya dilahirkan. Saya ingin perjalanan pertama saya di Hattrick selalu mengingatkan saya kepada tempat asal yang memiliki banyak kenangan dalam hidup saya.
Selain nama klub, saya juga memilih username ridho_pkj. Huruf PKJ merupakan singkatan dari Pakijangan. Saya sengaja menggunakan singkatan tersebut sebagai bentuk kebanggaan terhadap kampung halaman yang menjadi bagian dari identitas saya. Sampai sekarang, username itu tetap saya gunakan di Hattrick.
Menembus Kabut Ketidaktahuan dan Bertemu Mentor
Setelah proses pembuatan tim selesai, saya justru dihadapkan pada tantangan berikutnya. Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Menu yang begitu banyak, istilah-istilah yang asing, laporan pertandingan, latihan pemain, akademi, ekonomi klub, transfer pemain, semuanya terasa baru bagi saya. Alih-alih menyerah, saya kembali membuka video YouTube yang tadi saya tonton. Kali ini perhatian saya tertuju pada kolom komentar. Di sana terdapat sebuah komentar yang disematkan. Komentar tersebut berisi nomor WhatsApp seorang mentor Hattrick.
Tanpa ragu, pada sore itu juga saya langsung menghubungi nomor tersebut. Beliau adalah gus_ghele, owner tim FC Selayar Munchen. Saya sangat bersyukur karena beliau menyambut saya dengan ramah. Setelah berbincang beberapa saat, beliau mengajak saya bergabung ke sebuah grup WhatsApp bernama The Blind Hattrick.
Saya tidak pernah menyangka bahwa keputusan sederhana untuk bergabung ke grup itu akan mengubah perjalanan saya di Hattrick. Di dalam grup tersebut saya mulai belajar dari nol. Saya mengenal banyak istilah baru, memahami cara melatih pemain, mengatur keuangan klub, menyusun taktik pertandingan, hingga memahami berbagai mekanisme permainan yang sebelumnya terasa membingungkan.
Lebih dari itu, saya juga mendapatkan banyak teman dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke. Suasana kekeluargaan di grup itu benar-benar terasa. Tidak ada yang meremehkan pemain baru. Sebaliknya, semua saling membantu dan berbagi pengalaman.
Yang membuat saya semakin senang, ternyata orang yang membuat video tutorial Hattrick yang pertama kali saya tonton juga berada di grup tersebut. Beliau adalah owner tim Arjuna, yang kini bermain di Divisi 2.
Sejak saat itu saya tidak pernah malu bertanya. Saya percaya pada pepatah lama, “Malu bertanya sesat di jalan.” Karena tidak ingin tersesat di dunia Hattrick, saya memilih bertanya setiap kali ada hal yang belum saya pahami. Dari situlah saya belajar bahwa komunitas yang baik adalah tempat terbaik untuk berkembang.
Pelajaran Berharga dari Kesalahan Pertama
Namun perjalanan saya tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada satu pengalaman yang hingga sekarang masih membuat saya tersenyum sendiri ketika mengingatnya.
Saat pertama kali bermain, sebenarnya sistem Hattrick sudah memberikan pelatih bawaan dengan level 3. Sayangnya, karena kurangnya pengetahuan dan tidak berkonsultasi terlebih dahulu kepada para senior, saya justru mengganti pelatih tersebut menjadi pelatih level 1.
Saat itu saya merasa telah mengambil keputusan yang benar. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Akibat keputusan tersebut, perkembangan latihan pemain saya menjadi jauh lebih lambat. Hampir satu bulan saya menggunakan pelatih level 1 sebelum akhirnya menyadari kesalahan itu.
Itulah pelajaran pertama yang benar-benar mengajarkan saya bahwa di Hattrick, setiap keputusan memiliki konsekuensi. Untungnya saya segera mendapatkan arahan dari teman-teman di komunitas sehingga kesalahan tersebut tidak berlangsung lebih lama.
Transformasi Menjadi Persikab Brebes dan Babak Baru
Musim demi musim pun berlalu. Di penghujung musim pertama, saya mulai merasa bahwa nama Pakijangan FC sudah tidak lagi mewakili mimpi besar yang ingin saya bangun. Saya ingin klub ini membawa nama daerah tempat saya tinggal.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya pada 2 Agustus 2025, saya resmi mengganti nama klub menjadi Persikab Brebes. Hari itu menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam perjalanan saya di Hattrick. Akhirnya saya memiliki sebuah klub dengan identitas yang benar-benar saya banggakan.
Kini perjalanan itu terus berlanjut. Saya memulai karier dari Divisi 5, kemudian menjalani dua musim di Divisi 4, dan sekarang bersiap memasuki musim kedua di Divisi 3 bersama Persikab Brebes.
Saya juga sudah mengikuti berbagai turnamen persahabatan bersama komunitas Hattrick. Memang, hingga saat ini saya belum pernah mengangkat trofi juara. Namun, bagi saya, ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar gelar.
- Saya menemukan persahabatan.
- Saya menemukan keluarga baru.
- Saya menemukan komunitas yang menerima saya apa adanya.
- Saya menemukan sebuah game yang membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan bukanlah penghalang untuk menikmati dunia sepak bola dari sudut pandang seorang manajer.
Lebih dari Sekadar Permainan
Jika ada satu hal yang paling saya syukuri sejak sore tanggal 25 April 2025 itu, maka jawabannya sederhana. Saya akhirnya menemukan game yang selama 22 tahun saya cari. Hattrick bukan hanya mengajarkan saya tentang sepak bola, taktik, atau manajemen klub. Hattrick mengajarkan saya bahwa kesempatan selalu ada bagi siapa pun yang mau mencoba, belajar, dan tidak pernah menyerah.
Melalui tulisan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga besar The Blind Hattrick, khususnya kepada gus_ghele, owner FC Selayar Munchen, yang telah menjadi mentor pertama saya, serta kepada seluruh senior dan teman-teman yang tidak pernah bosan menjawab pertanyaan saya selama belajar memahami Hattrick.
Semoga semakin banyak penyandang disabilitas, khususnya tunanetra, yang mengetahui bahwa Hattrick adalah salah satu game manajerial sepak bola yang dapat diakses dengan baik menggunakan screen reader.
Karena bagi saya, Hattrick bukan sekadar permainan. Hattrick adalah tempat di mana saya menemukan mimpi yang selama ini saya cari.
Salam Hattrickers!
Ridho Mughni Aji (ridho_pkj)
Manager Persikab Brebes



