Sebuah cara baru untuk menjelajahi dunia tanpa menggunakan mata, melainkan dengan pendengaran, kepekaan sentuhan jari, dan imajinasi.

Aku mencari sesuatu yang bisa membuktikan bahwa diriku belum habis. Aku merindukan sepak bola—ketegangan taktik, hitungan strategi, dan kepuasan sebuah kemenangan. Hingga akhirnya, ketukan jariku di atas layar kaca smartphone dan suara robotik dari screen reader (pembaca layar) di telingaku membimbingku ke sebuah dunia simulasi berbasis teks yang luar biasa: Hattrick. Ini adalah game pertama yang kumainkan sejak menjadi seorang tunanetra.

Lahirnya FC Pejantan Jakarta

Saat akunku terverifikasi, hal pertama yang harus kulakukan adalah memberi nama klub. Aku ingin nama yang mencerminkan kejantanan dalam arti yang sesungguhnya: keberanian. Dari pemikiran itulah lahir nama FC Pejantan Jakarta.

Ketika skuad awal dibacakan lewat usapan jari di layar smartphone, menunya jujur saja sangat mengenaskan. Isinya adalah pemain-pemain generik dengan skill yang didominasi kata “Wretched” (buruk sekali) atau “Poor” (buruk). Keuangan klub pun sangat mepet. Namun, di dalam kepalaku, sebuah cetak biru taktis jangka panjang justru baru saja terbentang dengan sangat jelas. FC Pejantan Jakarta tidak dibangun untuk menjadi pelengkap di papan bawah.

Labirin Screen Reader dan Pertemuan dengan Mentor

Memulai segalanya menggunakan screen reader di ponsel ternyata adalah labirin yang rumit. Suara robotik pembaca layar terus mendengungkan angka, tabel transfer, dan menu taktik yang menguras konsentrasi. Aku sempat merasa kewalahan, hingga akhirnya sistem game memberikan sebuah tugas panduan (Manager License) untuk memilih seorang mentor dari daftar yang tersedia.

Aku mengusap layar, mendengarkan deretan nama yang dibacakan satu per satu oleh ponselku. Tanpa alasan khusus, instingku menuntun jari untuk mengetuk ganda satu nama: Agusghele.

Keputusan itu ternyata menjadi salah satu titik balik terbesar. Saat kami mulai bertukar pesan virtual, sebuah fakta terungkap. Lewat ketikan kata-katanya, aku baru tahu bahwa Agusghele—mentor yang kupilih sendiri itu—ternyata juga seorang tunanetra. Mengetahui hal itu seperti menemukan teman senasib, meski hanya bermodal layar ponsel.

“Hattrick itu permainan kesabaran,” kata salah satu pesannya yang dibacakan oleh ponselku. “Jangan buru-buru belanja pemain tua. Fokus pada satu jenis latihan dulu, bangun fondasi keuanganmu.”

Dia kemudian memasukkanku ke dalam sebuah komunitas khusus yang berisi para manajer Hattrick sesama tunanetra. Di dalam grup tersebut, kami saling berbagi kiat tentang menjaga Team Spirit (TS), memprediksi Form, hingga trik meruntuhkan tim-tim mapan yang dikendalikan oleh manajer awas (non-tunanetra) hanya dengan menganalisis angka rating lewat genggaman tangan.

Strategi Bisnis: Melatih Kiper Masa Depan

Berbekal nasihat dari teman-teman di komunitas The Blind Hattrick, aku mengunci satu keputusan: FC Pejantan Jakarta akan memulai program mengumpulkan modal raksasa dengan cara melatih pemain dengan kemampuan skill minim menjadi kemampuan tingkat tinggi.

Mengandalkan kejelian pendengaran dan kecepatan jari di layar smartphone, aku menyaring bursa transfer global dengan sangat teliti. Aku harus menaikkan tawaran harga dengan ketukan ganda yang presisi sebelum waktu lelang habis, hingga akhirnya berhasil memenangkan dua pemain muda berusia 17 tahun yang memiliki bakat dasar posisi kiper dengan skill level 6 (Lumayan).

Strateginya ketat: satu kiper bermain di liga resmi hari Minggu, dan satu lagi diasah di laga persahabatan hari Rabu agar porsi training mingguan posisi kiper terisi maksimal 100%.

Bulan demi bulan berlalu di dunia nyata. Setiap hari Kamis saat pembaruan latihan diproses, aku mendengarkan laporan perkembangan dengan berdebar:

  • “Level 7 (Baik)…”
  • “Level 8 (Mantap)…”

Hingga puncaknya, pembaca layar ponselku mendengungkan kata yang dinanti: “Keeper: (Pahlawan Level 16)”.

Dua kiper belia yang dulu kudapatkan dengan modal pas-pasan kini telah menjelma menjadi monster di bawah mistar gawang. Saat keduanya kumasukkan ke bursa transfer, perang penawaran dari manajer-manajer papan atas global pecah di aplikasi Hattrick-ku. Ketika lelang berakhir, saldo kas FC Pejantan Jakarta melonjak drastis menyentuh angka ratusan miliaran rupiah game. Fondasi finansial yang kubangun dengan kesabaran berbulan-bulan akhirnya rampung. Kini, saatnya melahirkan skuad impian yang sesungguhnya.

Membentuk “Enam Pejantan Tangguh”

Dengan pundi-pundi uang yang melimpah, aku memulai proyek jangka panjang yang sesungguhnya: merekrut enam pemain muda berusia 17 tahun untuk ditempa bersama-sama sejak usia dini sebagai kerangka utama tim.

Aku kembali berburu di bursa transfer global lewat ponsel, mengusap layar demi menyaring ratusan bakat dengan kriteria ketat. Empat pemain muda berbakat dengan spesifikasi skill dasar yang kokoh dan memiliki speciality (kemampuan khusus) berhasil kumenangkan.

Namun, sebuah klub tidak akan punya “jiwa” tanpa adanya putra daerah. Dua slot tersisa sengaja kusisakan untuk sektor internal. Setiap minggu, jemariku rutin membuka menu Youth Academy (Tim Junior) milik FC Pejantan Jakarta. Penantian itu membuahkan hasil ketika dua pemain muda asli didikan akademi sendiri menunjukkan performa luar biasa dan siap diorbitkan ke tim utama tepat di usia 17 tahun. Mereka adalah darah daging klub ini.

Kini, enam “bocil” berumur 17 tahun resmi berkumpul di skuad utama—empat dari bursa transfer yang dievakuasi langsung dari menu lelang ponsel, dan dua dari akademi sendiri. Mereka berada di usia yang sama, memiliki masa depan yang panjang, dan mulai minggu ini, mereka akan masuk ke dalam menu latihan yang super ketat. Di dalam genggaman ponselku, aku tersenyum mendengarkan nama mereka dibacakan. Enam Pejantan Tangguh ini adalah masa depan klub.

Transformasi Menuju Kasta Tertinggi

Musim demi musim berganti dengan cepat. Latihan jangka panjang yang konsisten mulai menampakkan hasil nyata. Skuad mudaku perlahan mulai bertransformasi menjadi tulang punggung tim yang ditakuti di divisi bawah. Kata-kata seperti “Brilliant” hingga “Supernatural” kini semakin sering mendengung dari pelantang suara ponselku saat membaca profil skill keenam pemain utamaku.

Setiap hari Minggu kini menjadi panggung pembuktian mentalitas “Pejantan”. Di mana pun aku berada, aku membedah laporan pertandingan terakhir lawan, menghitung perkiraan rating setiap lini, dan menggeser posisi pemain di menu taktik demi mengamankan kemenangan demi kemenangan.

Jalan menuju target akhir kami—Liga Ligina atau Divisi Teratas Hattrick Indonesia—memang masih panjang dan dipenuhi tantangan berat seperti laga play-off yang menegangkan hingga badai cedera. Namun, mengingat kembali dari mana klub ini dimulai, rasa optimis itu selalu ada.

Klub ini lahir di saat aku sedang mencari arah baru dalam hidup setelah kehilangan penglihatan. Klub ini diberi nama FC Pejantan Jakarta sebagai simbol bahwa kami tidak akan menyerah pada keadaan. Perjalanan menaklukkan kasta tertinggi Indonesia, resmi dimulai dari sebuah genggaman tangan.